Skip to content
September 30, 2011 / Budi Hartono

PERAMAL BENCANA KEUANGAN

Robert Shiller, seorang profesor ekonomi di Yale University, sering menjadi kontraversi untuk membongkar kelemahan efisiensi pasar. Sejak tahun 1980-an, dia bekerja untuk menunjukkan bahwa pasar tidak sepenuhnya efisien. Pada tahun 2000, ia mengatakan dotcom akan bangkrut, pengusaha internet mendengus. Pada tahun 2005, ia mengatakan booming perumahaan akan menyebabkan resesi, pemberi pinjaman hipotik tertawa. Orang-orang memanggilnya dengan julukan Bapak Gelembung (Mr.Bubble) dan Bapak Kiamat (Mr.Doom) karena jauh-jauh hari sebelum ramalan bencananya terjadi ia sudah mengingatkan bahaya ekonomi yang sedang mengancam dari keberadaan harga asset. Dua kali pecahnya gelembung telah diramalkan dengan tepat, yaitu gelembung saham dotcom dan ambruknya pasar perumahan di Amerika yang akhirnya menyeret dunia kedalam krisis ekonomi yang sampai sekarang belum usai.

Pada Desember 1996, Shiller diundang pada acara pertemuan dengan Alan Greenspan. Dia menunjukkan diagram hubungan harga pendapatan (P/E ratio) dalam durasi hampir 80 tahun, semakin tinggi tingkat harga pendapatan dimasa sebelumnya, maka semakin rendah imbal hasil saham di masa mendatang. Apa yang disampaikan Shiller tersebut menjadi salah satu bahan pidato gubernur FED pada tanggal 5 Desember 1996. Greenspan pada pidatonya mengatakan “Kita dapat melihat hubungan terbalik yang ditunjukkan oleh rasio harga pendapatan dan tingkat inflasi dimasa lalu. Tetapi bagaimana kita tahu saat kegairahan tidak rasional sudah terlalu mendorong harga aset, yang kemudian menjadi sebab kontraksi tak terduga dan berkepanjangan seperti yang sudah terjadi di Jepang pada dekade lalu”. Pasar menanggapi sebentar kemudian berjalan meneruskan lonjakannya.

Perjalanan panjang lonjakan harga saham teknologi (Indeks Nasdaq) terus berlanjut sampai menuju puncaknya pada 6 Maret 200 dengan indeks 5.084. Pada saat indeks saham teknologi mencapai puncaknya, rasio harga pendapatan (PER) juga menuju titik puncak yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu pada 43 kali. Seminggu setelah indeks mencapai titik tertingginya, bukunya yang berjudul “Irrational Exuberence” dipublikasi dengan menampilkan grafik hubungan rasio harga pendapatan dalam jangka panjang. Seperti teori gravitasi, semakin tinggi lonjakan meninggalkan bumi, semakin keras kejatuhan yang diakibatkan. Seminggu setelah bukunya dipublikasi, harga saham dotcom berguguran. Pasar modal yang sebelumnya diliputi kegembiraan, berubah menjadi panik dalam waktu yang relatif singkat.

Setelah sukses meramalkan bencana keuangan pada saham dotcom, ia beralih topik pada pasar perumahan (housing market). Pada penjelajahan pertamanya tahun 1990-an tentang pasar perumahan, ia menemukan bahwa pasar tersebut tidak efisien karena harga tidak berjalan acak. Untuk Amerika, Pasar perumahan mempunyai total nilai yang sama besar seperti total nilai dari pasar modal, tetapi pasar perumahan belum mendapatkan perhatian lebih banyak dari ekonom. Bersama dengan rekan ekonomnya Karl E. Case, ia berkalaborasi untuk meneliti menemukan keberadaan gelembung dan bagaimana perilaku pelaku pasar perumahan. Salah satu hasil dari kerjasama tersebut mereka membangun indeks harga perumahan yang dihitung dengan harga jual kembali rumah, dan indeks tersebut sekarang terkenal dengan nama Case-Shiller Index.

Metode yang digunakan oleh Shiller untuk mendeteksi keberadaan kesalahan harga bahkan keberadaan gelembung tidak berbeda juah dengan caranya mendeteksi gelembung pada pasar modal. Dengan membandingkan harga rumah dengan fundamentalnya (biaya kontruksi, biaya sewa, pendapatan dll), dalam jangka panjang harga rumah cenderung meningkat mengikuti pertumbuhan pendapatan rumah tangga. Bila harga rumah naik lebih lambat dibandingkan pendapatan rumah tangga untuk beberapa tahun, maka harga akan menyusul. Sebaliknya, bila harga rumah lebih cepat melonjak dari kenaikan pendapatan rumah tangga, maka harga akan merosot mengikuti. Fenomena lonjakan harga rumah yang terlalu besar, sudah dirasakan sejak tahun 2003, dengan kertas kerjanya yang berjudul “Is There a Bubble in Housing Market?“, ia sudah curiga bahwa pasar perumahan terjadi gelembung. Pada akhirnya, ia merevisi bukunya “Irrational Exuberence” dan memasukkan sektor perumahan terjadi gelembung, dan untuk yang kedua kalinya Bapak Kiamat meramalkan adanya bencana ekonomi dimasa mendatang akibat meletusnya gelembung keuangan.

September 16, 2011 / Budi Hartono

Fly me to the moon

Fly me to the moon 
Let me play among the stars 
Let me see what spring is like 
On a-Jupiter and Mars 
In other words, hold my hand 
In other words, baby, kiss me 

Fill my heart with song 
And let me sing for ever more 
You are all I long for 
All I worship and adore 
In other words, please be true 
In other words, I love you 

Fill my heart with song 
Let me sing for ever more 
You are all I long for 
All I worship and adore 
In other words, please be true 
In other words, in other words 
I love … you